MUSLIM TERATAI

Media Informasi Muslim Perumahan Taman Teratai – Batam

Lembaga Penelitian Astronomi dan Geofisika Mesir: Ramadhan Dimulai 20 Juli, Berlangsung 30 Hari

Tinggalkan komentar

Image

DR HATIM Audah, Presiden National Research Institut Astronomi dan Geofisika, menyebutkan bahwa bulan lunar Ramadhan untuk tahun Hijriah 1433 saat ini terjadi pada Jumat, 20 Juli.

Dr. Audah, yang juga merupakan Pimpinan Lembaga Penelitian Astronomi dan Geofisika, menetapkan bahwa Ramadhan kali ini akan berlangsung 30 hari dan berakhir pada hari Sabtu (18/8/12).

Beliau menyatakan secara khusus kepada “Youm 7” dalam menanggapi pernyataan badan riset astronomi di Abu Dhabi, bahwa tidak mungkin melihat hilal setelah matahari terbenam pada hari Kamis di seluruh Arab dan negara Islam.

Beliau juga menambahkan bahwa Arab Saudi tidak bergantung pada perhitungan astronomi dalam menentukan bulan Hijriah, akan tetapi dengan menggunakan metode peneropongan bulan sabit (ru’yah hilal).

Sedangkan Mesir dalam penetapan bulan Hijriyah menggunakan metode astronomi, dan karena itu ia tetap yakin dengan hasil risetnya bahwa hilal Ramadhan bisa dilihat setelah terbenam matahari pada hari Kamis, 19 Juli 2012, selama 6 menit di Mekkah dan 2 menit di Kairo, bahkan selama 18 menit di beberapa negara Arab.

Namun beliau menegaskan, bahwa Lembaga Riset Astronomi dan Geofisika Mesir akan bergabung dengan Darul Ifta (Lembaga Fatwa) Mesir pada hari Kamis untuk melihat hilal Ramadhan, dan apabila Darul Ifta -sebagai lembaga yang memiliki otoritas- memutuskan bahwa hilal Ramadhan tidak nampak, maka diputuskan bahwa 1 Ramadhan bertepatan dengan hari Sabtu, 21 Juli 2012. Dan maka Lembaga Riset Astronomi akan menerima keputusan Darul Ifta.

Melihat kondisi seperti ini, Yuli Yasin, MA, Dosen Fakultas Dirasah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah menyatakan dalam jejaring sosial Facebook-nya, “Kapan Indonesia bisa seperti Mesir ya? Ahli astronomi yang yakin dengan risetnya dengan lapang dada mau menerima keputusan pemerintah agar umat tidak berpecah belah… puasa bersama, menyambut kemenangan bersama-sama.. .kapan ya masyarakat Indonesia mau mengerti bahwa “alkhuruj ‘anil khilaf mustahabbah” (keluar dari perbedaan sangat disukai). [dedih mulyadi]

‘Ilmu Manusia Dalam Melihat Hilal Masih Mungkin Salah, Sedangkan Hukum Allah Pasti Benar’

DR ASHRAF Fahmi, penasihat Mufti (Lembaga Fatwa) Mesir, menegaskan bahwa Darul Ifta berprinsip pada ketetapan-ketetapan yang berlaku dalam melihat hilal. Darul Ifta memiliki sembilan komisi khusus yang bertugas untuk melihat hilal, sembilan komisi ini tersebar di 9 situs di seluruh Mesir dan dilengkapi dengan teleskop canggih pada hari Kamis setengah jam sebelum maghrib dan akan tergantung pada hasil dari komisi.

Dr Ali Amin, seorang profesor hukum Syari’ah, penasihat Mufti Mesir dan anggota Komisi Khusus Melihat Hilal, ia menekankan bahwa setiap negara memiliki ketentuan tempat peneropongan masing-masing bahkan di seluruh penjuru dunia mana pun memiliki tempat peneropongan.

Seperti halnya tempat meneropong di Saudi tidak akan sama dengan tempat meneropong di Maroko. Sedangkan dalam hadits dinyatakan, “Berpuasalah kamu melihatnya (hilal) dan berhentilah berpuasa ketika melihatnya,” dengan demikian berdasarkan hadits tersebut,tidak ada salahnya jika kita ingin menyatukan seluruh negara Arab dalam melihat hilal. Hal ini sesuai dengan pendapat Abu Hanifah.

Dr. Alwi juga menambahkan bahwa bahwa ilmu masih ada kemungkinan salah, namun hukum Allah tidak, dan” kami lebih mengutamakan akurasi dengan menunaikan perintah Allah karena merupakan bagian dari ibadah.” [dedih mulyadi]

 

Muslim Eropa Bersama Tentukan Pelaksanaan Ramadhan & Idul Fitri

BERITA bagus untuk umat Islam. Tahun ini, Federasi Organisasi Islam di Eropa dan Dewan Eropa tentang Fatwa dan Riset berkumpul bersama untuk menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri.

Bulan suci Ramadhan tiba minggu depan, di Jerman dan Prancis  kemungkinan akan dimulai pada hari Jumat sedangkan Inggris kemungkinan pada hari Sabtu.

Di banyak Negara, sering sekali terjadi umat Muslim memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan berbeda. Yang paling bermasalah adalah minoritas Muslim yanga hidup di negara dengan banyaknya libur kalender Kristen.

Merasa frustrasi oleh kebingungan ini, para pemimpin Muslim di seluruh Eropa kini beralih ke astronomi modern untuk membantu memecahkan masalah. Tapi perbedaan teologis, perpecahan etnis dan tradisi masih kuat menghambat kemajuan ini.

“Dalam dunia modern, terutama di Barat, orang tidak bisa memutuskan dengan cepat untuk memulai atau mengakhiri bulan suci pada pukul 10 malam, malam sebelumnya,” kata Nidhal Guessoum, astrofisikawan kelahiran Aljazair yang telah lama memikirkan solusi ilmiah untuk hal ini.

Jika metode astronomi ini dipakai oleh Muslim Eropa, bisa jadi di Eropa tidak akan terjadi lagi perbedaan pelaksanaan Ramadhan dan Idul Fitri. Metode ini telah lama digunakan di Turki. [sa/wb]

Penulis: Masjid Al-A'laa Taman teratai - Batam

Membangun Ukhuwah dan Keshalihan Umat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s