MUSLIM TERATAI

Media Informasi Muslim Perumahan Taman Teratai – Batam

Jalan Raya Cermin Indonesia

Tinggalkan komentar

Image

DI JALAN raya kerapkali saya bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan remeh-temeh yang jawabanya terkadang tak seremeh-temeh yang saya bayangkan sebelumnya. Inilah salah satu contohnya.

Di ruas Jalan Raya, tepatnya di sebuah parkiran depan salah satu Bank swasta di Malang. Saya kerap bertemu dengan seorang pemuda berpakaian security, sambil menengadahkan topi di depan orang yang memarkir sepeda motor di depan halaman Bank. Mereka mengklaim dirinya sebagai pemberi jasa bagi pengguna tempat halaman Bank tersebut. Dan mereka meminta kita, pemakai parkiran, untuk menyisihkan seribu rupiyah untuk ‘membayar’ jasa mereka.

Saya kadang tak memberi mereka uang.  Atau, jika saya-pun tergerak untuk memberinya, biasanya dalam keadaan seolah-olah terpaksa. Ada semacam ketidak-ikhlasan. Padahal, saya tahu bahwa anak-anak muda itu adalah bagian dari pengangguran yang hidupnya pasti terpuruk akibat krisis ekonomi berkepanjangan. Mereka boleh jadi, meminjam istilah Karl Marx, adalah kaum termarjinalkan atau kaum proletariat. Yakni kelas bawah yang tak punya pekerjaan, Tak tertampung oleh lapangan kerja yang makin tebatas, yang kualitas hidupnya lebih buruk dibanding kaum pekerja atau ploretariat yang ditindas di pabrik-pabrik dan di lapangan kerja lainya.

Dan bergelutlah saya dengan pertanyaan remeh-temeh seperti yang saya katakan di awal. Mengapa terasa berat memberi anak-anak muda itu uang sekedarnya? Mengapa saya—dan mungkin juga banyak orang lain tidak ikhlas mengeluarkan sedikit uang untuk mereka yang berpanas-panasan, kadangkala berhujan-hujanan, di hampir sepanjang siang itu?

Ternyata, kemungkinan-kemungkinan jawaban yang saya temukan tak seremeh-temeh yang saya bayangkan sebelumnya. Bisa jadi, sebagaimana banyak orang lain, saya tidak menemukan layanan jasa apapun dari anak-anak muda itu. Saya atau kita tidak rela menyaksikan anak-anak muda itu berpura-pura telah memberikan jasanya untuk kami, padahal faktanya tidak. Ketidak-ikhlasan memberi anak-anak muda itu uang adalah refleksi dari sikap menolak kepura-puraan yang belakangan semakin marak di sekitar kita.

Coba saja hitung, berapa banyak orang yang mengais uang di tempat-tempat strategis dengan menggunakan jasa parkir semaunya atau di perempatan-perempatan jalan dengan berpura-pura mengerjakan sesuatu: mengamen tanpa mengeluarkan suara nyanyian, memetik gitar tanpa menimbulkan melodi yang paling sederhana sekalipun dan terus dengan gaya memaksa meminta uang kepada pendengar, mengelap kaca kendaraan tanpa membersihkan kaca itu, mengemis meminta belas kasihan sementara badanya segar bugar penuh tenaga.

Saya sendiri punya kemungkinan jawaban lain. saya melihat anak-anak muda melakukan kesia-siaan yang nyata, dan saya pun tak bersedia terlibat di dalamnya.  Mereka mencontek cara penyelesaian masalah yang sia-sia yang dipertontonkan lama oleh elit-elit politik negeri ini, yakni mengatasi masalah secara simptomatik, permukaan, parsial alias sepotong-potong dengan mengabaikan akar permasalahanya. Mereka menarik jasa parkir dengan tanpa penjagaan yang benar-benar, tanpa karcis dan akhirnya ketika terjadi kehilangan mereka lempar batu kesalahan. Setiap kali terjadi terus seperti itu, sambil bopeng-bopeng terus bertambah dari waktu ke waktu. Alangkah celakanya kita mesti ikut membayar- sekalipun dalam jumlah yang sangat kecil-pendekatan simptomatik yang ujungnya jelas kesia-siaan itu.

Kemungkinan jawaban lain ternyata lebih serius. Perbaikan tempat-tempat startegis yang seharusnya ada tempat parkir selayaknya dibuat parkir atau bentuk perbaikan jalan-jalan umum yang semestinya menjadi kewajiban pemerintah. Saya, sebagaimana kita semua sebagai warga negara, telah ikut menanggung pembiayaan negara dengan beragam cara. Ketika anak-anak muda berbuat semacam itu, mangkal di depan halaman salah satu Bank dan terus berpakaian layaknya satpam dengan tiba-tiba menarik uang tanpa jasa atau yang sering kita jumpai sebuah lobang di jalan yang terus dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab dengan menutup lobang alakadarnya dan terus meminta jasa kepada pengguna jalan. Mereka diam-diam mengalihkan tanggung jawab yang seharunya dipikul pemerintah ke tangan rakyat. Saya tentu menolak mengambil posisi yang sangat keliru ini. saya tak bersedia menjadi bagian dari mafia diam-diam tanpa sadar mengaburkan keharusan pertanggungjawaban publik pada pemerintah.

Tapi saya maklum. Masyarakat yang terus-menerus dirampas haknya, pasti akan tanpa beban melakukan pengambilan hak orang lain. Saya pikir-pikir, jalan raya, parkiran adalah cermin dari masyarakat. Karena itu di sanalah kita mudah menemukan praktek-praktek kleptokrasi: perampasah hak orang lain.

Di masa depan mudah-mudahan jalan raya kita, tempat-tempat parkiran semakin tertib dan sehat. Sebab, itulah cermin dari mulai tertib dan sehatnya sistem politik kita.  Amien.

Taufik, Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Penulis: Masjid Al-A'laa Taman teratai - Batam

Membangun Ukhuwah dan Keshalihan Umat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s