MUSLIM TERATAI

Media Informasi Muslim Perumahan Taman Teratai – Batam

Cinderella Complex; Candu Yahudi Yang Jadi Impian Remaja Indonesia

Tinggalkan komentar

Image

DENGAN berbekal sebuah gitar biasa, M Ridho bernyanyi di hadapan para juri Indonesian Idol. Ia membawakan lagu ciptaaannya sendiri yang berjudul “Nang Neng Nong” atau Kuingin Kita Lama Pacaran Di Sini. Anang Hermansyah mengernyitkan dahi. Agnes Monica tersenyum-senyum dengan binar di matanya. Sedangkan Ahmad Dhani, seusai Ridho bernyanyi, langsung membeli lagu itu seharga Rp 5 juta. Dhani dengan band-nya TRIAD menyanyikan ulang lagu itu dengan aransemen ciri khas-nya. Sedangkan Ridho mendadak jadi terkenal.

Ridho hanya satu dari ratusan ribu anak-anak muda yang menggantungkan impiannya jadi selebritis lewat acara reality show di teve. Popularitas plus banyak duit dengan jalan pintas memang lagi trend. Praktisi kejiwaan menyebutnya sebagai Cinderela Complex.

Konon, semua bermula dari kisah Veri Afandi yang mengilhami mereka. Setelah menang di Akademi Fantasi Indosiar (AFI-1) pada tahun 2004, anak tukang becak kelahiran Pangkalan Brandan, 7 Januari 1983 itu menjadi artis beneran. Di usianya yang ke 21, Veri telah menjadi “legenda” para ABG Indonesia. Anak-anak nongkrong, demikian istilah MTV. Setelah Very, ada Ihsan, Judika, Dirly, atau Yoda pada tahun ini.

Acara reality show memang sudah menjadi tren di berbagai stasiun teve. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga dunia. Di Indonesia, walau acara serupa sudah ada sejak lama, tapi bisa dikatakan fenomenal setelah Indosiar menggelar AFI pada Desember 2003. Dari AFI, waktu itu Indosiar bisa menangguk laba bersih empat miliar rupiah hanya dalam waktu dua jam! Sebab itu, selain AFI, Indosiar juga menggelar acara Indonesian Model dengan kemasan program mirip AFI.

Melihat keberhasilan AFI dan keuntungan besar yang didapat Indosiar, berbagai stasiun teve swasta pun ikut latah menggelar acara mirip-mirip AFI. Sebut saja Indonesian Idol-nya RCTI, Indonesia Mencari Bakat, atau Orang Lucu Indonesia dsb, Semua acara menyertakan babak audisi dan eliminasi untuk mencari pemenang.

Seberapa besar keuntungan yang bisa diraup stasiun teve dari program reality show seperti ini?

Dalam menggelar konser AFI di berbagai daerah, misalnya di Yogyakarta, Indosiar waktu itu mengeluarkan dana Rp 500 juta. Di Medan hingga Rp750 juta. Keuntungan dari acara ini tidak didapat dari penjualan tiket, tapi dari iklan di layar teve. Walau Yonni Setiabrata, Marketing Service Manager Indosiar, enggan menyebut besaran angka pada wartawan, namun dari hitungan kasar bisa dipastikan laba yang diperoleh sangat besar.

Acara off-air yang digelar Indosiar juga ditayangkan langsung lewat layat teve. Dalam satu jam, ada sekitar delapan kali jeda iklan. Jika dihitung, alokasi untuk iklan ternyata lebih banyak ketimbang acara AFI-nya sendiri. Sekali jeda biasanya dijejali 16 spot iklan. Satu spot iklan rata-rata berdurasi 30 detik. Tarif iklan untuk acara yang masuk prime-time, sekitar Rp 20 juta per-spot.

Setelah dikalkulasi keseluruhan, untuk dua jam tayang Indosiar mendapat pemasukan Rp 5,12 miliar. Setelah dikurangi biaya produksi sekitar Rp 750 juta, maka diperoleh laba bersih sebesar Rp 4,4 miliar!

Harap diingat. Laba tersebut baru dari sekali konser saja. Jika digabung dengan acara AFI lainnya, misal “Diary AFI” dan “Up Close & Personal”, jumlah tersebut akan kian menggelembung!

Lalu ada lagi pemasukan dari sponsor berbagai merk konsumsi seperti makanan ringan, minuman, shampo, sabun mandi, hingga motor. Belum lagi fee dari kontrak-kontrak para akademia. Ada juga pembagian prosentase dari keuntungan premium call dan pesan singkat (SMS) dengan Visitel, penyelenggaranya. Tidak salah jika dikatakan bahwa AFI adalah tambang emas bagi Indosiar.

Kehidupan serba mudah yang telah diraih remaja dan rekan-rekannya inilah yang mengilhami banyak remaja di Indonesia. Ketenaran dan kekayaan instant. Terlebih di masa serba susah seperti sekarang.

Proyek bernama reality show ini adalah proyek puluhan miliar. Tak hanya melibatkan peserta, penonton, dan stasiun teve. Tapi juga banyak media massa cetak maupun eletronik. Semuanya ber-simbiosis mutualisma, saling menguntungkan, dalam satu irama bernama: industri hiburan.

“Dalam sistem kapitalistis, semua aspek kehidupan telah dijadikan industri. Dihitung dari sisi untung-rugi. Termasuk bidang agama. Apakah orang sekarang sadar, perayaan natal misalnya, telah dijadikan ajang bisnis bagi banyak pengusaha parsel, kartu ucapan, traveling, dan sebagainya. Demikian juga dengan perayaan agama lainnya,” ujar Max Horkheimer dari Franfurt Institut.

Dalam kacamata Frankfurt Institut sebagai salah satu gerakan anti-imperialisme, kapitalisme telah sungguh-sungguh mengubah fitrah manusia. Satu-satunya pertimbangan adalah modal.

“Kapitalis telah mencuci otak manusia, hingga semua aspek kehidupan dilihat dari segi modal. Tiada lagi akal budi dan pemikiran yang rasional,” tambah Horkheimer.

Dalam dunia kapitalis, kebutuhan manusia pun dimanipulasi. “Jika belum memiliki barang A, misalnya,  kita merasa seolah belum manusia seutuhnya. Padahal, tanpa barang itu pun kita bisa hidup dan utuh. Namun pemikiran kita setiap hari terus-menerus diserang oleh corong propaganda industri kapitalistis,” paparnya lagi.

Sebagai kelompok diskusi intensif, Frankfurt Institut banyak menghasilkan karya tulis. Berbagai istilah diciptakan dan dicoba diurai dengan beragam teori alternatif. Oleh Islam, segala yang dibahas dalam kajian Franfurt Institut sesungguhnya telah terangkum dalam satu istilah: Ghouzwul Fikri (Perang Pemikiran).

“Tak kan rela kaum Yahudi dan Nasrani kepadamu hingga kamu mengikuti milah mereka,” demikian firman Allah SWT dalam Qur’an surat al-Baqarah ayat 120. Dalam perjalanan sejarah kemanusiaan, firman Allah SWT ini mendapat pembenaran dari tindak-tanduk kaum Yahudi dan Nasrani sendiri.

Samuel Zweimer, Ketua Perhimpunan Bangsa Yahudi, berpidato di hadapan ratusan delegasi Yahudi dari berbagai negara dalam Konferensi Yerusalem (1935). “Misi saudara-saudara adalah mengeluarkan, menjauhkan kaum Muslimin dari Islam. Jadikan mereka generasi yang suka hura-hura, senang memburu harta kekayaan dan jabatan, asyik dengan hal-hal yang membangkitkan syahwat. Lakukanlah perjuangan suci ini!” ujar Zweimer.

Dan di hadapan kita kini terbentang generasi muda Indonesia, mayoritas generasi muda Islam, yang rela antre di siang terik dan panas, basah kehujanan, dari pagi-pagi buta hingga malam hari, melupakan makan apalagi sholat, demi mengejar impian menjadi artis top: the American Dream. Inilah potret kita semua. [Rizki Ridyasmara]

Penulis: Masjid Al-A'laa Taman teratai - Batam

Membangun Ukhuwah dan Keshalihan Umat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s